BARU

Lama sekali aku tidak menyimak dan membaca blog ini lagi. Terakhir, setelah kutulis soal “pamit”, banyak hal sebenarnya yang ingin kutumpahkan. Baiklah, mungkin ini waktu yang sebenarnya tidak terlalu terpat. Tapi, apa lacur, sekarang atau nanti, toh soal waktu saja.

Citra dan prestasi, memang idak selalu berbanding lurus. Aku ingin sekali membangun citra positif dengan eksplorasi diri yang optimal. Tapi, kenyataan tidak selalu berdampingan dengan impian. Selama empat bulan lebih di tempat yang baru, pergumulan, pergulatan, pertarungan, keremukkan, ketertindasan, kecerahan, semuanya menjadi terang. Dan ini nyata. Sesuatu yang sebenarnya tak ingin ku lakoni dalam dunia nyata.

Paradoks selalu muncul. Mulai dari menontonkan diri atas kebodohan, kecerdasan, kemuakan, dan rasa simpati. Dan yang di depan mata juga memperlihatkan hal yang sama.

Ah…..
Hidup memang perjuangan di aras tanpa batas..

Komentar bertahan »

Pamit

Maaf, saya harus bercerita panjang dalam tulisan ini.

Kamis (28/2) malam, seperti biasa setiap bulannya, saya menarik hampir semua uang yang ada di ATM. Setelah anak kami tercinta tertidur, di sebuah kamar yang disediakan mertua untuk kami tinggal, saya dan istri membagi uang untuk semua kebutuhan rutin. Ending dari kisah sehari setelah gajian ini sudah bisa ditebak:TRAGIS. Layaknya sebuah cerita film, aku berusaha tidak menitikkan air mata pada tragedi bulanan ini. Aku gak kuasa menyampaikan berapa kali pinjam ke mertua, ke teman sekantor, teman sepos liputan, bahkan ke redaktur. Bahkan, suatu hari Harun Mahbub (beberapa hari sebelum dia menikah) sempat mengatakan, “Kang, Anda ini hidup hanya mengandalkan keajaiban.”

Maaf kalau ceritaku itu hanya mengulang-ulang yang sudah dirasakan sama hampir semua teman2. Sebagian mungkin menganggap bahwa ini persoalan yang sudah biasa, lama2 tidak menganggap sebagai masalah lagi. Sekali lagi aku minta maaf kalau ada sebagian teman menganggap aku naif.

Tapi, aku harus mempertanggungjawabkan kepercayaan Illahi yang sudah mau menitipkan istri dan anak untuk membentuk rumah tangga. Pengalaman sosiologisku menyatakan, suatu ketika aku bisa saja tersudut oleh keadaan. Ini hanya tinggal waktu. Tapi, aku sudah berjanji tidak akan ngamplop, menghindari mencari proyek untuk tambahan pendapatan, atau usaha-usaha lain yang berpotensi mengaburkan idealisme.

Tapi, masalahnya juga tidak hanya soal isi perut yang didapat dari periuk nasi. Ketika pada tahun 2000 lalu aku memutuskan bekerja di radio sebagai News Programmer, dan aku menjalaninya selama empat tahun, di situlah aku sudah mengambil keputusan untuk memperluas wilayah masa depan, “Suatu saat aku harus mengembangkan karir ke dunia broadcast.”

Aku harus menyampaikan terima kasih pada Yophiandi yang sudah memberi banyak pandangan panjang lewat telepon beberapa kali sampai berjam-jam. Ke sandy, yang sudah ngobrol banyak hal di perpustakaan pada suatu malam. Ke Fanny, yang sudah memberi masukkan-masukkan taktis. Ke Ibnu dengan pandangan-pandangan luas, tanpa menyadari kalau aku sedang dalam proses memutuskan sesuatu.

Dengan berat hati aku mengatakan soal kepindahan ini. Sungguh, ini soal yang sama sekali tidak gampang aku putuskan. Diskusi yang panjang aku jalani berbulan-bulan (nyaris lima bulan aku pertimbangkan masalah ini), terutama sama istri tercinta. Jadi, Isya Allah, ini bukan keputusan emosional, dadakan, atau semata-mata uang.

Dan pilihan jatuh ke TV One. Sejak lima bulan lalu, sebenarnya sudah ditawari sebagai reporter senior di program news. Tapi aku berpandangan, kalau tetap jadi reporter, apalagi di news, menurutku metamorfosis tidak terjadi. Dari awal sebenarnya yang aku inginkan adalah mengasah kemampuan jurnalisme investigasi. Kebetulan, awal bulan lalu aku diminta Ecep Suwardani Yasa (Produser Eksekutif Investigasi TV One-Mantan koresponden Tempo di Semarang yang kemudian diganti oleh Dian Yuliastuti) untuk bergabung.

Tentu ada pertnyaan, kenapa harus TV One? Wahyudin Fahmi pernah memperingatkan aku kalau TW adalah salah seorang yang menyuntikkan dananya ke perusahaan ini. Belum lagi ada unsur Bakrie di sana. Bagi aku, di Indonesia ini, bekerja di televisi ibaran makan buah simalakalma. Pilihannya: TW atau Cendana. Tapi percayalah, jika aku memilih TV One, bukan berarti aku dalam posisi ingin mengkhianati Tempo dengan bergabung bersama musuh. Demi Allah tidak ada niat untuk itu.

Teman
Aku yakin, apa yang aku sampaikan sekarang ini tidak bisa memuaskan semua teman-teman. Aku mohon maaf.

Komentar bertahan »

TERBANG

kelana ini bagai penjelajahan yang dibatasi waktu. pertemuan dengan tapal batas jadi rahasia. hanya terbang melihat, mencerna, dan melaku. marka sudah disabdakan, agar tak lengah dengan jebakan.

aduh, terbang tanpa marka kerap berbuah nikmat. sadar kalau itu hanya sesaat. tapi menggoda. awan kelabu memang terlalu pekat. dan pesawat ini tak bakal berbalik. dia meretas ke tapal batas

Komentar bertahan »

NAWAITU

Berawal dari niat, nawaitu. Berfondasi kebersihan, dilakoni dengan keyakinan, dirasakan hasilnya dengan kepasrahan. Keniscayaanpun menyapa. 

Bismillah. Dan awal lelaku dimulai…..

Kain putih membentang di luasnya lapang.

Komentar bertahan »